PENGURUS PUSAT PERMATANIN PERIODE MASA BAKTI 2018 – 2021

BERITA

PERKUMPULAN MARGA TAN INDONESIA PEDULI KORBAN GEMPA LOMBOK

September 10th, 2018|0 Comments

Ketua Umum Marga Tan Indonesia Andaka Nardjadin memimpin langsung rombongan Perkumpulan Marga Tan Indonesia ke Lombok, Kamis (9/8). Rombongan yang di pimpin Andaka Nardjadin (Ketua Umum) didampingi Jeffrey Tan (Sekjend), Tan Tjeng Tie (Bendum) beserta [...]

Permatanin menghadiri acara ulang tahun marga tan batam

September 10th, 2018|0 Comments

Pengurus permatanin dipimpin sekjend melayat ke ibunda pak hendra

September 10th, 2018|0 Comments

"Segenap Keluarga Besar Perkumpulan Marga Tan Indonesia" Turut Berduka atas meninggalnya ibu Nelly Sunaly (Ibunda dari Bp. Hendra Widjaja/Ketua Kehormatan PERMATANIN), semoga Almarhumah mendapatkan tempat yang terbaik di sisi-Nya, dan kepada anggota keluarga yang ditinggalkan [...]

Petinju Juara Dunia WBA Asia dan WBO Intercontinental “DAUD YORDAN”

September 10th, 2018|0 Comments

Petinju andalan dan kebanggaan Indonesia, Daud Yordan, berhasil membawa pulang sabuk juara tinju kelas ringan WBA Asia dan WBO Intercontinental. Dalam pertarungan di DIVS, Ekaterinburg, Rusia, Senin (23/4/2018) dini hari WIB, Daud menang KO atas [...]

Pelantikan pengurus pusat Marga Tan Indonesia

May 19th, 2018|0 Comments

Perkumpulan Marga Tan Indonesia mengadakan pelantikan pengurus pusat di Sun City Luxury Club, Mangga Besar, Jakarta. Senin (23/4/2018). Pada pelantikan tersebut Andaka Narjadin terpilih menjadi Ketua Umum Perkumpulan Marga Tan Indonesia periode 2018-2021. Pada acara [...]

MEDIA SOSIAL

Facebook Posts

test fb ... See MoreSee Less

View on Facebook

Perkumpulan Marga Tan Indonesia peduli korban Bencana Lombok diterima oleh Bupati Lombok Utara dan TNI AD ... See MoreSee Less

View on Facebook

Marga Tan (Chen 陈)

Marga Chen adalah marga besar. Di propinsi Hokkian 20% penduduknya bermarga ini. Marga tersebut adalah keturunan dari Yu Shun 虞舜 salah seorang dari San Huang Wu Di 三皇五帝. Baik ‘huang’ maupun ‘di’ sebetulnya sama-sama berarti kaisar pada awal zaman prasejarah Tiongkok. Yu Shun diperkirakan hidup sekitar tahun 2097SM – 2037 SM. Sumber lain ada yang mengatakan marga Chen adalah keturunan Huang Di/Kaisar Kuning, yaitu kaisar pertama dari Wu Di. Marga Chen sendiri baru dipergunakan oleh Hu Gongman 胡公满 pada permulaan zaman dinasti Zhou 周 yang mana kata ‘chen’ ini berasal dari nama negara.

Zaman dinasti Zhou, wilayah dibagi menjadi beberapa negara yang dikuasai oleh seorang zhuhou诸侯[1]. Biasanya zhuhou adalah keluarga kaisar. Hu Gongman ini mengelola negara Chen. Karena itu, ia sering disebut Chen Hu Gongman. Lama-lama ‘chen’ ini dijadikan marga oleh keturunannya. Sedangkan qunwang 群望 adalah tempat dimana marga itu berkembang. Marga chen berkembang di Yinchuan颍川( sekarang propinsi Henan 河南). Yinchuan belakangan disebut Xuzhou 许州. Wilayahnya meliputi tiga kota besar sekarang, yaitu Xuchang 许昌,Yuzhou 禹州 dan Pingdingshan 平顶山. Wilayah ini merupakan pusat berkembangnya banyak marga lain karena memang merupakan pusat pemerintahan zaman itu.

Dalam urutan marga zaman sekarang, marga Chen menduduki tempat kelima di bawah Li (Lie) 李,Wang (Ong) 王,Zhang (Thio) 张 dan Liu (Lauw) 刘.

Sedangkan mengenai nama jumlahnya tak dapat dihitung karena nama Tionghoa adalah nama huruf. Jadi, orang yang huruf (hanzi) namanya sama, kalau dibaca dengan berbagai dialek (hokkian/hakka dll) menjadi berbeda bunyi. Jadi, kalau ingin tahu dengan tepat apa arti nama Anda, harus tahu huruf dan dialek yang dipakai leluhur keluarga. Ini pun belum terlalu pasti karena ada dialek sedikit yang namanya mengikuti dialek yang banyak dipakai. Misal, karena yang paling dulu masuk ke Indonesia adalah orang berdialek Hokkian, maka orang itu membaca namanya dengan dialek hokkian, demikian juga dengan keturunannya. Bisa juga karena petugas imigrasi Indonesia pada zaman dahulu tak dapat berbicara bahasa Tionghoa. Kalau pembantu penerjemahnya adalah orang Hokkian dan dibaca dalam dialek Hokkian, maka nama tersebut akan ditulis dalam dialek Hokkian. Dari mana asal orang tersebut tidak peduli. Jangan lupa, bahasa Mandarin, bahasa nasional orang Tionghoa sekarang berasal dari Tiongkok Utara sedangkan zaman dahulu lalu lintas sangat sulit sehingga orang Selatanlah yang banyak berimigrasi ke Asia Tenggara. Kita ambil contoh orang Hokcia, taipan Indonesia Lim Siu Liong. Ia bukan orang Hokkian namun marganya ditulis Lim yang adalah dialek Hokkian.

Tiap huruf Tionghoa ada artinya. Orang tua yang memberi nama anak biasanya mencari arti yang sesuai dengan harapan mereka. Memang tidak selalu. Ada yang hanya ikut-ikutan saja dengan yang lain tanpa peduli apa arti nama tersebut. Nama bisa satu suku kata dan bisa pula dua suku kata. Yang dua suku kata, bisa keduanya adalah nama dan bisa juga satu di antaranya adalah nama generasi yang pernah ditentukan oleh leluhur mereka. Sedangkan yang satu suku pasti tak ada nama generasi. Bagi keluarga yang punya nama generasi, anaknya hanya perlu mencari satu suku kata sebab yang lain sudah pasti(digariskan). Misalnya orang Hokcia marga Lim ada yang bernama generasi Kek, anaknya Tun sedangkan cucunya Ming. Jadi, misal Kek Han. Anaknya akan bernama Tun Siang, Tun Ling dan sebagainya. Sedangkan cucunya bernama Ming Kuang, Ming Min dan lain-lain.

Orang Hokkian biasanya menempatkan nama generasi di suku pertama nama. Misalnya Hong Goan, adiknya Hong Cai dan adiknya lagi Hong Kim. Sedangkan orang Hakka banyak yang menaruh nama generasi di elakang. Misal tiga bersaudara bernama Min Fuk, Ai Fuk dan Liong Fuk. Tapi aturan seperti ini bukan keharusan.

Nama generasi atau angkatan ditentukan oleh leluhur ybs. Jadi kalau beda keturunan belum tentu sama. Satu-satunya cara kunjungi persatuan marga, apakah ada catatan di sana. Ini untuk marga besar, untuk marga kecil pasti tak ada.

Dalam dialek Hokkian, ada kata ‘hokki’ yang artinya rezeki. Tapi untuk nama belum tentu tulisannya sama. Bisa saja ‘hok’-nya adalah ‘hok’ rezeki tapi ki-nya yang lain, misal ‘ki’ dari dasar/landasan. Maka nama Hokki dapat berarti ‘landasan untuk dapat rezeki’.

Sebagai tambahan, ada nama populer dan ada nama yang jarang. Misalnya nama Agus ‘kan banyak sekali. Nama Deddy juga banyak tapi nama Deidih sedikit. Jadi ada orang tua yang memberi nama anaknya dengan nama populer. Alasannya kalau dipake banyak orang berarti nama tersebut bagus. Ada juga yang kebalikannya. Ia justru mencari nama yang sedikit dipergunakan orang bahkan menciptakan nama baru. Alasannya banyak nama sama akan menyulitkan si anak nantinya karena akan banyak salah paham. Mending kalau positif, kalau negatif?

Nama Tan Hok Kie saya asumsikan bahwa yangg banyak dipakai orang/’hok’ yang populer adalah ‘hok’ rezeki福. Sedangkann ‘kie’ yang populer dan menjadi satu arti dengan ‘hok’ adalah ‘kie’ dengan mandarinnya ji基. Maka, saya terka nama Tan Hok Kie di sini adalah陈福基 kecuali bila orang tua sengaja memberikan nama yang hurufnya jarang dipakai untuuk nama.

Dalam riset yang dilakukan di 7 propinsi tahun 1982 di Tiongkok, ditemukan huruf hok福 itu menduduki nomor 30 dari 3345 huruf yang dipakai sedang Kie 基 ada dalam urutan 253, atau di antara sesama huruf ji adalah nomor dua (nomor satunya adalah ji 继). Mengapa saya menduga yang nomor dua bukan nomor satu? Ji yang继 berarti meneruskan jadi kalau dirangkai dengan fu terbailik, 福继 berarti rezeki meneruskan, tak ada artinya harusnya meneruskan rezeki. Alasan kedua penanya menanyakan arti nama Hok Kie, sedang dalam dialek Hokkian Ji yang berarti meneruskan harus diucapkan Ke,bukan Kie. Jadi hampir dapat dipastikan nama itu Hok Kie berarti landasan rezeki. Mungkin ada yang bertanya, bagaimana kalau orang tuanya mengambil huruf yang jarang dipergunakan untuk menulis nama Hok Kie? Ini mudah dijawab, kalau orang tua memilih nama yang jarang, memilih dari 3000 huruf lebih, tidak ada seorangpun yang dapat menebaknya, harus orang tua yang bersangkutan yang menjawab.

Ada lagi yang mengatakan bahwa keluarganya menggunakan nama Tjan di depan, kakek adalah Tjan, bapak Tjan, anak Tjan dst. Ini bukan nama sebab tak lazim nama orang tua disamakan dengan anak. Tjan di sini kemungkinan adalah Marga Tjan. Kalau marga memang sejak leluhur kita harus terus diteruskan, cara menulisnya? Huruf Tionghoanya sama 曾 tapi diucapkannya beda-beda tergantung dialek. Cara menulis dalam huruf Latin juga beda-beda sesuai ejaan yang digunakan. Misalnya Tjan ditulis demikian karena dalam ejaan Belanda yang menjajah Indonesia dulu , bunyi ‘tj’ pada ‘tjan’ itu adalah ‘tj’. Kalau ditulis menggunakan ejaan bahasa Indonesia sekarang menjadi ‘Can’. Jadi tulisan ‘Tjan’ itu bukan baku, tapi karena ejaan Indonesia lama. Seorang teman saya bermarga Tjan. Karena tak percaya, ia bertanya kepada orang dari Hongkong, Singapore bahkan dari China, “dari mana asalnya marga Tjan?” Semua menggelengkan kepala karena tak ada marga itu, katanya. Maka, kalau bertanya sebaiknya ditulis huruf Tionghoa-nya. Ada lagi yang bertanya mengapa nama dan marganya kalau dibaca orang yang berlainan bahasa , misalnya berbahasa Mandarin, yang berdialek Hakka, oleh orang Hongkong yang berdialek Konghu, jadi berlainan? Ia tidak dapat mengerti keterangan orang. Jawabannya ialah karena huruf Tionghoa itu berasal dari gambar. Gambar matahari oleh orang Indonesia, oleh orang Inggeris, oleh orang India, oleh orang Hakka dan oleh orang Hokkian akan berlainan, meskipun hurufnya sama. Tapi Tjan bukan benda katanya? Boleh kita lihat yang bukan benda, angka 6, oleh orang Belanda, Inggeris , Itali, orang Indonesia, orang Sunda semua berbeda. Begitulah sifaf huruf Tionghoa, dibaca berbeda artinya tetap sama. Semoga jelas, maaf bagi yang sudah mengerti, tulisan ini untuk menjawab yang tidak mengerti atau salah mengerti.
... See MoreSee Less

View on Facebook

Asal Usul Tradisi Peh Cun / Bacang

Menurut penanggalan Imlek, tanggal 5 bulan 5 kalender lunar adalah hari Duan Wu, mungkin kalau di Indonesia lebih dikenal sebagai hari Peh Cun yang terkenal akan Bacang-nya.

Menurut tradisi orang Tionghoa, Peh Cun termasuk salah satu dari tiga hari besar orang Tionghoa selain hari raya Imlek dan hari raya Tiong Jiu (kue bulan).

Ada empat hal yang sering dilakukan masyarakat Tiongkok bila merayakan hari ini, yaitu membuat dan makan Bacang, mendirikan telur, dan mengadakan lomba perahu naga (Dragon Boat Festival) juga Mandi tengah hari.

Festival Peh Cun (端午节 Peh Cun Jie) yang diamati pada hari 5 bulan 5 kalender lunar Cina. Festival ini juga dikenal di Barat sebagai Festival Perahu Naga, dan pada masih ada yang lebih rendah, Festival Dumpling, karena balap perahu berbentuk seperti naga dan konsumsi kue beras adalah dua elemen utama yang mencirikan festival ini.

Festival ini juga kadang-kadang disebut Double Kelima Festival (重五节 Chongwu Jie) karena tanggal pada bulan yang diadakan (yaitu 5 / 5). Hal ini juga dapat disebut Festival Extreme Yang (端阳节 Duanyang Jie) karena menurut metafisika Cina, hari ini terjadi untuk mewujudkan keluar Yang energi terkuat sepanjang tahun. Nama tambahan lain untuk festival ini juga termasuk Festival Bulan Kelima (五月节 Wuyue Jie), Festival Hari Kelima (五日节 Wuri Jie), dan Festival Summer (夏节 Xia Jie).

Ada beberapa teori ditawarkan untuk asal-usul festival ini, tetapi yang paling populer menyangkut tokoh sejarah Qu Yuan (屈原) (c. 340 SM – 278 SM) yang merupakan sarjana patriotik dan menteri yang setia di negara Chu (楚国) selama periode Negara Berperang. Duan 「端」adalah singkatan dari Kai Duan「開端」 yang bermakna awal Chu「初」, orang zaman dulu menyebut tanggal 1 sebagai Chu Yi 「初一」, maka tanggal 5 sebagai sinonimnya : Duan Wu 「端五. Orang kuno juga biasa menyebut 5 / Wu sebagai siang hari Wu Ri「午日 maka dari itu bulan 5 tanggal 5 juga dinamakan Duan Wu 「端午.

Qu Yuan disukai kebijakan kerjasama diplomatik dengan kerajaan lainnya dari periode sebagai cara untuk melawan agresi negara Qin ( 秦国 ) yang mengancam akan menaklukkan mereka semua (Qin akhirnya menyatukan seluruh Cina dan kemudian mendirikan Qin dinasti).

Dia berhasil dalam mendapatkan raja untuk mengadopsi kebijakan, dan ia difitnah dan dibuang ke pengasingan setelah menteri korup lainnya meyakinkan raja untuk percaya pada tuduhan-tuduhan palsu mereka tentang dia. Pada tahun 278 SM, ketika Qu Yuan mendengar bahwa pasukan Qin menyerbu Ying (郢), ibukota Chu, ia menulis puisi Ratapan untuk Ying (哀郢 Ai Ying) di derita sebelum menenggelamkan diri di Sungai Miluo ( 汨罗江 Miluo Jiang ) ( terletak di provinsi Hunan sehari-sekarang).

Ritual bunuh diriNya dilakukan untuk memprotes korupsi yang menyebabkan jatuhnya negara rumahnya. Menurut legenda, penduduk desa berpacu perahu mereka di sungai untuk mencari tubuhnya, atau mereka mendayung perahu mereka sambil memukul drum untuk menakut-nakuti ikan dan / atau roh-roh jahat sehingga mereka tidak akan mengganggu tubuhnya. Mereka juga melemparkan bungkus beras ke dalam sungai yang baik dimaksudkan untuk makan ikan sehingga mereka tidak mau makan tubuhnya, atau sebagai persembahan untuk roh Qu Yuan.

Legenda lain juga mengatakan bahwa Qu Yuan muncul dalam mimpi teman-temannya dan mengatakan kepada mereka bahwa ia telah melakukan bunuh diri karena tenggelam dan bahwa mereka harus membuang nasi yang dibungkus dalam sutra ke sungai untuk menenangkan sungai naga. Ini adalah legenda yang memunculkan kebiasaan tradisional balap perahu naga (龙舟 longzhou) dan makan kue beras ( 粽子 zongzi ) pada peringatan kematian Qu Yuan yang diamati setiap tahun pada hari 5 bulan lunar ke-5.

Legenda Qu Yuan adalah cerita yang paling populer disebut sebagai asal dari Duan Wu Festival, tetapi ada juga cerita alternatif lain juga melibatkan tokoh-tokoh sejarah lainnya. Satu cerita alternatif melibatkan Wu Zixu (伍子胥) (526 SM SM? Untuk 484) dari periode Musim Semi; Musim Gugur yang merupakan sarjana, setia, dan umum militer negara Wu (吴国). saranNya untuk mencegah invasi oleh negara tetangga telah diabaikan oleh raja dan ia dipaksa untuk bunuh diri dengan pedang.

Dia mengatakan kepada raja untuk menghilangkan bola setelah bunuh diri dan menggantung mereka di atas gerbang kota sehingga ia dapat menyaksikan serangan itu. Tubuhnya dibuang ke sungai setelah kematiannya, tetapi ia kemudian didewakan sebagai dewa sungai yang disebut Dewa Gelombang ( 涛神 Taoshen ).

Cerita lain alternatif melibatkan anak perempuan berbakti Cao E (曹娥) (130 CE untuk 143 M) dari dinasti Han yang tenggelam mencari ayahnya, Cao Xu (曹盱), seorang dukun yang jatuh ke sungai saat melakukan ritual keagamaan untuk dewa sungai – Wu mantan Zixu.

Ada juga teori lain yang mengatakan Festival Peh Cun awalnya adalah festival agraria untuk merayakan panen gandum musim dingin, atau festival keagamaan untuk berlatih menyembah naga atau mencegah penyakit. Kegiatan tradisional yang dikenal selama Festival Peh Cun adalah menampilkan gambar dari Zhong Kui (钟馗) (dewa Tao yang menangkap hantu dan roh jahat), minum anggur realgar (雄黄酒 Jiu xionghuang),mengambil lama berjalan, memakai sachet herbal wangi (香包 xiangbao), dan menutup telepon jerangau / bendera manis (菖蒲 changpu) dan mugwort Cina (艾草 aicao) ( karena tanaman aromatik digunakan untuk menangkal serangga yang berkembang biak sebagai cuaca menjadi hangat di bulan lunar kelima ). Semua praktik ini memiliki tema umum mengusir kekuatan negatif dan menjaga kesehatan yang baik.

Makan Bakcang : Tradisi makan bakcang secara resmi dijadikan sebagai salah satu kegiatan dalam festival Peh Cun. Berdasarkan catatan sejarah, pada zaman Qun Chiu (Tahun 722 – 481 S.M.), menggunakan daun untuk membungkus beras dijadikan berbentuk tanduk sapi juga ada yang menggunakan tabung bambu diisi beras ditutup rapat dan dipanggang sampai matang, disebut “Bacang Tabung”.

Ini boleh dibilang adalah cikal bakal Bacang. Bentuk bakcang sebenarnya juga bermacam-macam dan yang kita lihat sekarang hanyalah salah satu dari banyak bentuk dan jenis bakcang tadi. Di Taiwan, di zaman akhir Dinasti Ming, bentuk bakcang yang dibawa oleh pendatang dari Fujian adalah bulat gepeng, agak lain dengan bentuk prisma segitiga yang kita lihat sekarang. Isi bakcang juga bermacam-macam dan bukan hanya daging. Ada yang isinya sayur-sayuran, ada pula yang dibuat kecil-kecil namun tanpa isi yang kemudian dimakan bersama serikaya, gula manis.

Pada bulan 5 (kalender Imlek), saat musim panas memakan kue pendingin tubuh terbuat dari beras, yang dibungkus dengan daun dan dimasak sampai matang, aroma wanginya terasa unik, sesudah menyantapnya bisa menetralisir panas-dalam dan menurunkan sifat api dalam tubuh, terasa nyaman bagi pencernaan, sungguh suatu makanan yang sesuai dengan musimnya.

Pada saat itu, orang-orang berganti busana musim kemarau dan mengutamakan yang serba ringan dan sejuk. Dilihat dari tradisi berpakaian dan makananya, hari Duan Wu dianggap ada hubungan yang akrab dengan tibanya musim kemarau, tentu ada benarnya juga.



Mengenang Qu Yuan



Kebiasaan adat istiadat yang berkaitan dengan hari Duan Wu tidak sedikit, mengenai asal usulnya terdapat tidak hanya 1 dongeng saja, umumnya diperkirakan hari Duan Wu berawal dari peringatan Qu Yuan (baca: chu yuen) hingga tersebar luas. Konon pada masa Zhan Guo (Negara Saling Berperang, tahun 403 – 221 SM), Raja Chu, Huai Wang menolak nasihat Qu Yuan untuk berkoalisi dengan Negara Qi dan berperang melawan Qin, akhirnya Raja diperdayai oleh Zhang Yi di Negara Qin, ia dipaksa merelakan wilayah berikut kota-kotanya. Kemudian terdengar kabar bahwa Raja Huai Wang telah terbunuh oleh konspirasi negara Qin.Qu Yuan

Qu Yuan yang setia lagi-lagi mengusulkan secara tertulis kepada sang pengganti: Raja Qing Xiang, dengan harapan beliau bisa menjauhi para pejabat pengkhianat, akan tetapi Raja Qing Xiang selain tidak bisa menampung aspirasi tulus Qu Yuan, malah membuangnya. Negara Qin melihat peluang sudah matang dan dengan segara mengirimkan bala tentara, dalam waktu singkat maka Negara Qu telah kehilangan sebagian besar teritorialnya, rakyatnya dibantai. Qu Yuan yang masih setia, menyaksikan semuanya ini, hatinya bagaikan teriris, dalam kesedihan yang amat sangat maka pada tahun 278 SM, kalender Imlek tanggal 5 bulan 5, dia bunuh diri dengan menceburkan dirinya ke Sungai Mi Luo.

Para nelayan mendengar berita tersebut menggunakan perahu berusaha mengangkat jenazah Qu Yuan namun gagal, maka akhirnya mereka berbondong-bondong menceburkan makanan ke dalam sungai, dengan harapan agar para ikan, udang dan kepiting sesudah makan kenyang tidak sampai mengganggu jenazah Qu Yuan. Kejadian tersebut dikaitkan dengan tradisi makan kue Bacang, lomba perahu naga dan lain sebagainya dengan meloncatnya Qu Yuan ke dalam sungai.

Hari Raya Naga dan lomba Perahu Naga :

Cendekiawan patriot terkenal, Tuan Wen Yiduo di dalam tesisnya “Kajian Duan Wu” berpendapat: Suku bangsa kuno Yue menjadikan naga sebagai totem mereka, kala itu karena orang-orang merasa terancam kekuatan alam, beranggapan suatu makhluk memiliki kekuatan alami supranatural, oleh karena itu menganggap makhluk-makhluk tersebut adalah leluhur dan dewa pelindung seluruh suku mereka, yang di zaman kini disebut sebagai “Totem Naga”.

Maka mereka menato makhluk berupa naga pada tubuhnya dan di atas peralatan sehari-harinya, agar memperoleh perlindungan dari Totem Naga, demi menunjukkan bahwasanya mereka berstatus “anak naga”, mengokohkan hak dilindungi bagi dirinya sendiri. Mereka tidak saja bertradisi memotong rambut dan menato tubuh, bahkan pada setiap tanggal 5 bulan 5 kalender Imlek, mengadakan sebuah persembahan besar Totem Naga. Di antaranya terdapat permainan yang mirip dengan perlombaan pada dewasa ini, itulah asal usul tradisi lomba naga ketika dimulai.

Namun lomba perahu naga bukan hanya adat istiadat orang Yue, tapi suku bangsa lainnya juga memiliki kebiasaan itu, di dalam penemuan benda-benda kuno zaman Zhan Guo dapat terlihat sedikit kecenderungan tersebut, waktu terselenggaranya lomba perahu naga juga sama. Saat ini, Dragon Boat Festival dirayakan di China, Taiwan, Singapura, Malaysia, Indonesia dan beberapa negara lain.

Menggantungkan Rumput Ai dan Changpu :

Peh Cun yang jatuh pada musim panas biasanya dianggap sebagai bulan-bulan yang banyak penyakitnya, sehingga rumah-rumah biasanya melakukan pembersihan, lalu menggantungkan rumput Ai (Hanzi: 艾草) dan changpu (Hanzi: 菖埔) di depan rumah untuk mengusir dan mencegah datangnya penyakit. Jadi, festival ini juga erat kaitannya dengan tradisi menjaga kesehatan di dalam masyarakat Tionghoa.

Mandi Tengah Hari :

Tradisi ini cuma ada di kalangan masyarakat yang berasal dari Fujian (Hokkian, Hokchiu, Hakka), Guangdong ( Thiochiu, HokChiu, Hakka) dan Taiwan. Mereka mengambil dan menyimpan air pada tengah hari festival Peh Cun ini, karena dipercaya dapat digunakan untuk menyembuhkan penyakit bila dengan mandi ataupun diminum setelah dimasak. Kalau di Indonesia, ada yang mandi di sungai ketika tengah hari karena dipercayai saat itu air naga datang ( kota tanjungbalai, Sumatera Utara )

Mendirikan Telur :

Anda pernah mencoba membuat telor berdiri? Dari cerita orang-orang tua dulu hanya satu hari dalam setahun dimana telor dapat berdiri yaitu pada hari bacang (peh cun). Fenomena alam ini terjadi setiap tanggal 5 bulan 5 penanggalan kalender imlek tepat jam 12 siang.

Fenomena ini jelas ada di kalender imlek sebagai hari raya Duanwu (China), di Taiwan juga disebut sebagai “Twan Yang” (saat matahari memancarkan cahaya paling kuat, Gaya gravitasi di tanggal ini adalah yang terlemah, sehingga menyebabkan telor ayam mentah bisa berdiri), saat ini matahari berada di “posisi istimewa” yaitu tepat di atas khatulistiwa, sehingga mendirikan telur juga merupakan bagian dari festival budaya ini, selain tentunya menyantap Bacang.

Syarat dan Kondisi Telur :

-Telur Tidak boleh dicuci
-Telur tidak boleh di masukan ke dalam kulkas
-Telur jangan direbus
... See MoreSee Less

View on Facebook

Belum Menjadi Anggota?

DAFTAR